1.
Penyuluhan Kesehatan
Masyarakat
Penyuluhan kesehatan masyarakat adalah upaya
memberdayakan individu, kelompok dan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan
dan melindungi kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan,
serta mengembangkan suasana yang mendukung, yang dilakukan dari, oleh dan untuk
masyarakat, sesuai dengan sosial budaya dan kondisi setempat (Depkes RI, 1999).
Penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit adalah
upaya penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan di rumah sakit. Tujuannya agar
individu, kelompok dan masyarakat di lingkungan rumah sakit tahu akan hidup
sehat, mau dan mampu mempraktekkannya, serta mau dan mampu berpartisipasi dalam
upaya kesehatan yang ada (Depkes RI, 1999).
Penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit meliputi:
a. Kelompok sasaran promosi kesehatan di rumah sakit
terdiri dari :
1) Sasaran
primer (mitra langsung). Sasaran primer atau mitra langsung terutama adalah
para pasien atau penderita yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit beserta
keluarganya;
2) Sasaran
sekunder (mitra antara). Sasaran sekunder atau mitra antara adalah sasaran/
mitra yang mempunyai pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung kepada
sasaran primer, seperti petugas rumah sakit dan kelompok profesi;
3) Sasaran tersier (mitra penentu). Sasaran tersier
atau mitra penentu adalah sasaran mitra yang mempunyai pengaruh dan dukungan
besar, baik berupa dana, kebijakan maupun dukungan lainnya. Sasaran tersier antara lain: direktur rumah
sakit dan para pengambil keputusan. Peran yang diharapkan dari para mitra
penentu adalah untuk memberikan dukungan kebijakan/ peraturan dan sumber daya
termasuk dana, serta memberikan contoh perilaku hidup bersih dan sehat di rumah
sakit (Depkes RI, 2004).
b.
Strategi penyuluhan
kesehatan
Strategi adalah cara untuk visi dan pelaksanaan misi,
berdasarkan tujuan dan kebijakan yang ditetapkan. Strategi penyuluhan kesehatan
di rumah sakit adalah sebagai berikut:
1) pendekatan pimpinan (advocacy).
Strategi ini terutama ditujukan kepada para pimpinan atau pengambil keputusan,
seperti Direktur rumah sakit, kepala bagian/ instalasi atau pejabat baik di
tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/kota, yang secara fungsional maupun
struktural membina rumah sakit. Tujuannya adalah agar para pemimpin atau
pengambil keputusan mengupayakan kebijakan atau peraturan yang berorientasi
sehat, serta memberikan dukungan kemudahan, pengayoman, dan bimbingan, berupa
arahan atau peraturan tertulis, dukungan dana ataupun dukungan moril, termasuk
memberikan katauladanan.
2) bina suasana/ dukungan sosial (social
support). Strategi ini ditujukan kepada kelompok sasaran sekunder, seperti
petugas kesehatan di rumah sakit, termasuk organisasi profesi kesehatan seperti
ikatan dokter indonesia, persatuan perawat nasional indonesia, termasuk
organisasi perumahsakitan, lembaga swadaya masyarakat yang peduli rumah sakit,
para pembuat opini di masyarakat dan media massa. Tujuannya adalah agar
kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung
dilaksanakannya penyuluhan kesehatan di rumah sakit.
3) pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Strategi ini ditujukan kepada seluruh kelompok khususnya sasarn primer,
meliputi baik penderita, keluarganya, masyarakat umum secara individu, kelompok
maupun massa. Tujuannya agar kelompok sasaran meningkatkan pengetahuannya,
kesadaran maupun kemempuannya sehingga dapat berperilaku positif dalam bidang
kesehtan. Caranya dengan penyuluhan perorangan, penyuluhan kelompok, membuat
gerakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan melakukan kegiatan bersama untuk
mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat (Depkes RI, 1999).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar