Social Icons

Featured Posts

Minggu, 07 Oktober 2012

Skizofrenia


1.        Skizofrenia
a.                 Definisi Skizofrenia
Menurut Kraepelin skizofrenia merupakan penyakit dengan kemunduran inteligensi sebelum waktunya  atau disebut juga demensia prekox. Sedangkan Bleuler menggunakan istilah skizofrenia yang berarti jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan (Maramis, 2005).
b.                Gambaran Klinis skizofrenia
Menurut Bleuler gejala – gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer dan sekunder.
Gejala – gejala primer:
1)      Gangguan proses pikiran (bentuk langkah dan isi pikiran). Pada skizofrenia inti gangguan terletak pada proses pikir, terutama asosiasi. Kadang – kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah muncul ide lain. Hal ini menyebabkan jalan pikiran penderita skizofrenia sulit dimengerti / inkoherensi.
2)      Gangguan afek dan emosi. Penderita skizofrenia menjadi acuh tak acuh terhadap hal – hal penting, apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira pada penderita timbul rasa sedih atau marah, emosi yang berlebihan.
3)      Gangguan kemauan. Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan, tidak dapat mengambil keputusan dan tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan.  
4)      Gejala psikomotor (gejala katatonik atau gangguan perbuatan). Misalnya, penderita dalam keadaan stupor tidak menunjukkan pergerakan sama sekali, mempertahankan posisi badan dalam waktu yang lama.
Gejala – gejala sekunder:
1)      Waham: pada skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali dan sangat aneh. Bagi penderita wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun.
2)      Halusinasi: pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran. Paling sering pada skizofrenia adalah halusinasi pendengaran.
c.                 Tipe Skizofrenia
Menurut Kraepelin skizofrenia dapat digolongkan sebagai berikut:
1)      Skizofrenia simplex : sering timbul pertam kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Awalnya mungkin penderita mulai kurang memperhatikan keluarganya atau menarik diri dari pergaulan.
2)      Jenis Hebefrenik : permulaannya perlahan – lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejalanya antara lain : gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi, waham dan halusinasi.
3)      Jenis Katatonik : timbul pada umur 15 – 30 tahun. Mungkin terjadi stupor (penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali terhadap lingkungannya, emosinya sangat dangkal, gangguan psikomotor) atau gaduh-gelisah katatonik (terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar).
4)      Jenis Paranoid : gejala utamanya waham, halusinasi, gangguan proses berfikir, gangguan afek, emosi dan kemauan.
5)      Episoda skizofrenia akut : gejala skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan – akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan – akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya (oneiroid).
6)      Skizofrenia residual adalah keadaan skizofrenia dengan gejala – gejala primer. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia.
7)      Jenis skizo-afektif : gejala skizofrenia menonjol bersamaan dengan gejala depresi dan mania.
d.                Prognosa Penyakit
Penderita skizofrenia yang datang berobat dalam tahun pertama setelah serangan pertama, kira-kira sepertiga dari mereka akan sembuh (full remission atau recovery). Sepertiga yang lain dapat dikembalikan ke masyarakat walaupun masih didapati cacat sedikit dan harus sering diperiksa dan diobati (social recovery). Yang sisanya biasanya mempunyai prognosa jelek, penderita tidak dapat berfungsi di dalam masyarakat dan akan mengalami kemunduran mental.
e.                 Pengobatan
Pengobatan yang dapat diberikan kepada penderita skizofrenia antara lain :
1)      Farmakoterapi : neroleptika dengan dosis efektif rendah lebih  bermanfaat pada penderita dengan skizofrenia menahun. Trifluoperazin untuk penderita paranoid. Fenotiazin untuk mengatasi gejala waham dan halusinasi. Setelah gejala menghilang, dosis dipertahankan selama beberapa bulan lagi.
2)      Terapi elektro-konvulsi : terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang.
3)      Terapi koma insulin : terapi koma insulin memberi hasil yang baik pada katatonia dan skizofrenia paranoid. Persentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit.
4)      Psikoterapi dan rehabilitasi : psikoterapi suportif individual dan kelompok serta bimbingan digunakan untuk mengembalikan penderita kembali ke masyarakat. Terapi kerja baik untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter.

Nursing Informatics? Menarik!


Nursing informatics sebuah perpaduan kata yang tidak biasa, abstrak. Hal yang terpikirkan dari informatics adalah komputer, data dan analisa. Dipadukan dengan kata nursing-keperawatan, salah satu ilmu kesehatan. Jika disatukan akan memiliki makna sebuah integrasi antara ilmu keperawatan, komputer dan teknologi informasi.
Memilih mata kuliah ini adalah suatu pilihan yang tepat, tepat untuk saat ini agar tidak disebut “gaptek” dan masa depan saat masa untuk bekerja tiba. Nursing informatics, teknologi yang memudahkan dalam mengolah data, manajemen keperawatan dan pelaksanaan asuhan keperawatan. Di sini mahasiswa dibantu untuk mengolah data penelitian dengan memanfaatkan Epi Info. Sedangkan perawat dimudahkan dalam proses asuhan keperawatan dari mulai pengkajian sampai evaluasi, rekam medis pasien; perawat tidak perlu repot-repot mencari data dalam tumpukan dokumen, dan dokumentasi sebagai penyaluran informasi antar perawat atau dengan tenaga kesehatan yang lain, serta manajemen keperawatan seperti tenaga perawat, bagaimana kinerja perawat, juga insentif untuk perawat-pun bisa dilihat di sini.
Dengan berbagai aplikasi yang didapatkan dari nursing informatics, telah membuka pikiran saya bahwa ternyata suatu hal yang selama ini kita anggap sulit untuk dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama, dengan memanfaatkan aplikasi kesehatan yang ada hal itu menjadi mudah. Misalnya untuk mengatur status gizi dengan Nutrisurvey, menghitung mengatur jadwal shift perawat dengan Snap Schedule, untuk orang awam yang ingin memiliki badan ideal dapat menggunakan aplikasi Diet Organizer yang bisa mengatur diet secara aman, dan masih banyak aplikasi-aplikasi kesehatan lainnya.
Mengetahui secara langsung penerapan software kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan yang sudah ada dan berjalan cukup baik di salah satu rumah sakit Indonesia, yang memang belum banyak diterapkan di negeri kita tercinta, Indonesia. Banyak hal yang bisa dipelajari di sini.
Orang Rusia bilang, belajar nursing informatics itu “Interesno”, menarik!

Kamis, 04 Oktober 2012

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

1.        Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
Penyuluhan kesehatan masyarakat adalah upaya memberdayakan individu, kelompok dan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan, serta mengembangkan suasana yang mendukung, yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat, sesuai dengan sosial budaya dan kondisi setempat (Depkes RI, 1999).
Penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit adalah upaya penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan di rumah sakit. Tujuannya agar individu, kelompok dan masyarakat di lingkungan rumah sakit tahu akan hidup sehat, mau dan mampu mempraktekkannya, serta mau dan mampu berpartisipasi dalam upaya kesehatan yang ada (Depkes RI, 1999).
Penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit meliputi:
a.    Kelompok sasaran promosi kesehatan di rumah sakit terdiri dari :
     1) Sasaran primer (mitra langsung). Sasaran primer atau mitra langsung terutama adalah para pasien atau penderita yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit beserta keluarganya;
     2) Sasaran sekunder (mitra antara). Sasaran sekunder atau mitra antara adalah sasaran/ mitra yang mempunyai pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung kepada sasaran primer, seperti petugas rumah sakit dan kelompok profesi;
3) Sasaran tersier (mitra penentu). Sasaran tersier atau mitra penentu adalah sasaran mitra yang mempunyai pengaruh dan dukungan besar, baik berupa dana, kebijakan maupun dukungan lainnya.  Sasaran tersier antara lain: direktur rumah sakit dan para pengambil keputusan. Peran yang diharapkan dari para mitra penentu adalah untuk memberikan dukungan kebijakan/ peraturan dan sumber daya termasuk dana, serta memberikan contoh perilaku hidup bersih dan sehat di rumah sakit (Depkes RI, 2004).


b.                  Strategi penyuluhan kesehatan
Strategi adalah cara untuk visi dan pelaksanaan misi, berdasarkan tujuan dan kebijakan yang ditetapkan. Strategi penyuluhan kesehatan di rumah sakit adalah sebagai berikut:
1) pendekatan pimpinan (advocacy). Strategi ini terutama ditujukan kepada para pimpinan atau pengambil keputusan, seperti Direktur rumah sakit, kepala bagian/ instalasi atau pejabat baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/kota, yang secara fungsional maupun struktural membina rumah sakit. Tujuannya adalah agar para pemimpin atau pengambil keputusan mengupayakan kebijakan atau peraturan yang berorientasi sehat, serta memberikan dukungan kemudahan, pengayoman, dan bimbingan, berupa arahan atau peraturan tertulis, dukungan dana ataupun dukungan moril, termasuk memberikan katauladanan.

2) bina suasana/ dukungan sosial (social support). Strategi ini ditujukan kepada kelompok sasaran sekunder, seperti petugas kesehatan di rumah sakit, termasuk organisasi profesi kesehatan seperti ikatan dokter indonesia, persatuan perawat nasional indonesia, termasuk organisasi perumahsakitan, lembaga swadaya masyarakat yang peduli rumah sakit, para pembuat opini di masyarakat dan media massa. Tujuannya adalah agar kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya penyuluhan kesehatan di rumah sakit.

3) pemberdayaan masyarakat (empowerment). Strategi ini ditujukan kepada seluruh kelompok khususnya sasarn primer, meliputi baik penderita, keluarganya, masyarakat umum secara individu, kelompok maupun massa. Tujuannya agar kelompok sasaran meningkatkan pengetahuannya, kesadaran maupun kemempuannya sehingga dapat berperilaku positif dalam bidang kesehtan. Caranya dengan penyuluhan perorangan, penyuluhan kelompok, membuat gerakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan melakukan kegiatan bersama untuk mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat (Depkes RI, 1999).

Contraceptive Prevalence Rate (CPR) dan Contraceptive Failure Rate (CFR)



                        Prevalensi pemakaian alat kontrasepsi/CPR akan berpengaruh terhadap penurunan TFR. Peningkatan CPR didukung oleh tingkat pencapaian peserta KB aktif. Capaian CPR sampai dengan tahun 2007 adalah sebesar 61,4% untuk semua cara dan 57,4% untuk cara modern, meningkat dari periode survei SDKI 2002/2003 sebesar 60,3 untuk semua cara dan 56,7 untuk cara modern.
                        Data SDKI 2007 menunjukkan jenis kontrasepsi yang paling banyak diminati adalah jenis suntikan (31,8%), pil (13,2%), dan IUD (4,9%). Secara nasional, metode sterilisasi wanita juga lebih banyak diminati (3,0%) dibandingkan dengan implant (2,8%). Kontrasepsi jenis suntikan semakin menurun penggunaannya seiring dengan jumlah anak yang dimiliki. Saat memiliki 12 anak, penggunaan suntik mencapai 38,7%, jumlah ini terus berkurang menjadi 19,3% pada perempuan dengan jumlah anak lebih dari 5 orang.
                      Tren data SDKI 19912007 menunjukkan perubahan pemakaian alat kontrasepsi dari pil ke suntik, sementara penggunaan kontrasepsi jenis implant, IUD, dan MOP terus mengalami penurunan dan metode KB MOW cenderung fluktuatif, padahal sasaran pembangunan kependudukan dan KB yang ingin dicapai dalam RPJMN 20042009 adalah meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang efektif dan efisien, yaitu metode kontrasepsi jangka panjang.
                        Upaya meningkatkan pemakaian CPR juga terkendala oleh tingginya disparitas CPR antarprovinsi, baik untuk semua cara maupun cara modern. CPR yang tertinggi untuk cara modern dan semua cara terdapat di Provinsi Bengkulu, sementara CPR yang terendah terdapat di Provinsi Papua untuk cara modern, dan Provinsi Maluku untuk semua cara. Selain itu, sebanyak 18 provinsi masih memiliki CPR cara modern di bawah ratarata nasional dan hanya 5 provinsi yang sudah memiliki CPR cara modern di atas 65%. CPR cara modern Indonesia (Nasional) sebesar 57,4% dan untuk provinsi DIY sebesar 54,8%, sedangkan CPR semua cara Indonesia sebesar 61,4% dan provinsi DIY telah mencapai 66,9%. 
                        Pasangan usia subur (PUS) di kabupaten Sleman adalah 137.905 orang, peserta KB aktif 99.810, bukan peserta KB karena ingin anak segara dan tidak inin anak lagi (BKKBN DIY, 2011).
                        Salah satu ukuran dari kualitas pemakaian (CPR) adalah angka putus pakai kontrasepsi. Alasan putus pakai antara lain karena kegagalan kontrasepsi, ketidakpuasan terhadap alat/cara KB, efek samping dan tidak tersedianya alat/cara KB. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief mengemukakan bahwa tingkat kegagalan kontrasepsi (Contraceptive Failure Rate) di Indonesia masih di bawah standar internasional yaitu 0,2 persen. Akseptor yang menggunakan metode kontrasepsi reversibel (bisa kembali subur) usia 15-45 tahun memiliki kemugkinan 1,8 untuk terjadi kegagalan kontrasepsi. Pada kontrasepsi tetap (kontap) yaitu sterilisasi, angka kegagalan hanyalah 1,3. Dalam 1 tahun penggunaan metode reversibel, terjadi kegagalan sebanyak 9%. Kegagalan kontrasepsi bisa disebabkan berbagai hal yaitu kegagalan metode itu sendiri, dihentikannya metode oleh akseptor, kurang disiplin menggunakannya, atau kesalahan penggunaan.
                        Contraceptive Failure Rate (CFR) yang tinggi dapat menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan. Hal ini meningkat pada akseptor yang mempunyai pengalaman kesulitan dalam mengakses alat kontrasepsi dan mengubah metode kontrasepsi setelah bencana Gempa di Yogyakarta dari metode yang mempunyai tingkat kegagalan rendah ke metode dengan tingkat kegagalan tinggi, seperti dari suntik ke koitus interuptus atau tidak menggunakan metode apapun. Tidak ditemukan kasus kehamilan yang tidak direncanakan pada akseptor yang menggunakan metode yang sama atau yang mengubah metode kontrasepsi dari metode kontrasepsi dengan tingkat kegagalan tinggi ke metode dengan tingkat kegagalan rendah (Hapsari, 2009).
 

Sample text

Sample Text

Sample Text