1.
Skizofrenia
a.
Definisi
Skizofrenia
Menurut Kraepelin skizofrenia merupakan penyakit
dengan kemunduran inteligensi sebelum waktunya
atau disebut juga demensia prekox.
Sedangkan Bleuler menggunakan istilah skizofrenia yang berarti jiwa yang
terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir,
perasaan dan perbuatan (Maramis, 2005).
b.
Gambaran Klinis
skizofrenia
Menurut Bleuler gejala – gejala skizofrenia dapat
dibagi menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer dan sekunder.
Gejala – gejala primer:
1) Gangguan proses pikiran (bentuk langkah dan isi
pikiran). Pada skizofrenia inti gangguan terletak pada proses pikir, terutama
asosiasi. Kadang – kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah muncul ide
lain. Hal ini menyebabkan jalan pikiran penderita skizofrenia sulit dimengerti
/ inkoherensi.
2) Gangguan afek dan emosi. Penderita skizofrenia menjadi
acuh tak acuh terhadap hal – hal penting, apa yang seharusnya menimbulkan rasa
senang dan gembira pada penderita timbul rasa sedih atau marah, emosi yang
berlebihan.
3) Gangguan kemauan. Banyak penderita dengan skizofrenia
mempunyai kelemahan kemauan, tidak dapat mengambil keputusan dan tidak dapat
bertindak dalam suatu keadaan.
4) Gejala psikomotor (gejala katatonik atau gangguan
perbuatan). Misalnya, penderita dalam keadaan stupor tidak menunjukkan
pergerakan sama sekali, mempertahankan posisi badan dalam waktu yang lama.
Gejala – gejala sekunder:
1) Waham: pada skizofrenia waham sering tidak logis sama
sekali dan sangat aneh. Bagi penderita wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat
diubah oleh siapapun.
2) Halusinasi: pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa
penurunan kesadaran. Paling sering pada skizofrenia adalah halusinasi
pendengaran.
c.
Tipe Skizofrenia
Menurut Kraepelin skizofrenia dapat digolongkan
sebagai berikut:
1) Skizofrenia simplex : sering timbul pertam kali pada
masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan
kemunduran kemauan. Awalnya mungkin penderita mulai kurang memperhatikan
keluarganya atau menarik diri dari pergaulan.
2) Jenis Hebefrenik : permulaannya perlahan – lahan atau
subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejalanya
antara lain : gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya
depersonalisasi, waham dan halusinasi.
3) Jenis Katatonik : timbul pada umur 15 – 30 tahun.
Mungkin terjadi stupor (penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali
terhadap lingkungannya, emosinya sangat dangkal, gangguan psikomotor) atau
gaduh-gelisah katatonik (terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai
dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar).
4) Jenis Paranoid : gejala utamanya waham, halusinasi,
gangguan proses berfikir, gangguan afek, emosi dan kemauan.
5) Episoda skizofrenia akut : gejala skizofrenia timbul
mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin
berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan – akan dunia luar maupun
dirinya sendiri berubah, semuanya seakan – akan mempunyai suatu arti yang
khusus baginya (oneiroid).
6) Skizofrenia residual adalah keadaan skizofrenia dengan
gejala – gejala primer. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan
skizofrenia.
7) Jenis skizo-afektif : gejala skizofrenia menonjol
bersamaan dengan gejala depresi dan mania.
d.
Prognosa
Penyakit
Penderita skizofrenia yang datang berobat dalam tahun pertama setelah
serangan pertama, kira-kira sepertiga dari mereka akan sembuh (full remission atau recovery). Sepertiga yang lain dapat dikembalikan ke masyarakat
walaupun masih didapati cacat sedikit dan harus sering diperiksa dan diobati (social recovery). Yang sisanya biasanya
mempunyai prognosa jelek, penderita tidak dapat berfungsi di dalam masyarakat
dan akan mengalami kemunduran mental.
e.
Pengobatan
Pengobatan yang
dapat diberikan kepada penderita skizofrenia antara lain :
1) Farmakoterapi : neroleptika dengan dosis efektif
rendah lebih bermanfaat pada penderita
dengan skizofrenia menahun. Trifluoperazin untuk penderita paranoid. Fenotiazin
untuk mengatasi gejala waham dan halusinasi. Setelah gejala menghilang, dosis
dipertahankan selama beberapa bulan lagi.
2) Terapi elektro-konvulsi : terapi konvulsi dapat
memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan
tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang.
3) Terapi koma insulin : terapi koma insulin memberi
hasil yang baik pada katatonia dan skizofrenia paranoid. Persentasi kesembuhan
lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit.
4) Psikoterapi dan rehabilitasi : psikoterapi suportif
individual dan kelompok serta bimbingan digunakan untuk mengembalikan penderita
kembali ke masyarakat. Terapi kerja baik untuk mendorong penderita bergaul lagi
dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter.